Senin, 23 Februari 2009

KEMATIAN, APAKAH PEMBEBASAN JIWA??

Manusia lahir di dunia tidak bisa menentukan mengenai waktu, tempat, anak siapa dan bagaimana kondisi lingkungannya nanti.

Hingga kenyataan di dunia yang mendekati akhir zaman, banyak hal-hal pahit yang menyertai kehidupan. Konflik antar ras di berbagai Negara, krisis ekonomi global, peperangan di Negara islam, kelaparan di daerah-daerah terisolasi, penindasan kaum buruh di luar negeri dan masih banyak hal-hal yang tidak menyenangkan di dunia ini.

Pertambahan penduduk yang semakin cepat disertai kemajuan teknologi ternyata juga menimbulkan problematika kehidupan tersendiri. Bagaimana tidak, dengan meningkatnya jumlah penduduk sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia membutuhkan keahlian-keahlian tertentu, dan sumberdaya manusia yang banyak sekalipun hanya sedikit yang bisa memenuhi kualifikasi dari lowongan pekerjaan. Hal itu telah menyebabkan guncangan tersendiri bagi manusia-manusianya. Bagi orang yang tidak memiliki bekal agama yang kuat, bisa saja mereka menempuh jalan pintas untuk mencapai keinginannya.

Seperti dalam teori Charles Darwin tentang “The Survival of the Fites” bahwa manusia saling menjatuhkan manusia yang lain untuk mempertahankan hidupnya, nah fakta ini yang sekarang terjadi di tengah-tengah ketidakpastian nasib kebanyakan orang.

Hal ini berdampak pada meningkatnya kriminalitas dan pembebasan jiwa dengan cara bunuh diri.

Sebenarnya siapakah manusia itu? Yang kebanyakan kita tahu mereka hanyalah penyebab kekacauan di dunia ini. Anggapan itu tidak mutlak salah namun ada yang lebih perlu dipahami lagi. Manusia adalah makhluk paling mulia yang oleh Tuhan dikaruniai akal dan hati, yang dengan itu manusia bisa mengetahui mana yang baik dan buruk. Manusia juga memiliki nafsu yang terdiri nafsu amarah, lawammah dan muthmainah. Nah sifat ingkar dari manusia itu karena nafsu lawammahnya telah menguasai hati dan akalnya. Selain itu lingkungan juga sangat berpengaruh membentuk pola pikir manusia. Seperti anggapan bahwa bunuh diri merupakan jalan pembebasan jiwa dari penderitaan merupakan persepsi yang salah dari manusia. Tuhan memang menciptakan sesuatu yang berlawanan seperti ada siang dan malam, senang dan gembira, laki dan perempuan, karena memang itulah batasan dari setiap kondisi yang akan dilalui manusia. Dengan begitu manusia memiliki pilihan dalam hidup. Jika ingin selamat maka manusia harus mengikuti jalan Tuhan. Tuhan memang memberikan cobaan bagi manusia untuk meningkatkan keimanannya, bukan untuk membebani manusia.

Jadi hanya orang-orang yang belum beriman jika hanya karena masalah dunia yang fana ini membuat manusia membebaskan derita dengan bunuh diri.

Jumat, 23 Januari 2009

Susah Juga Ya...

Binguuuung nich, ternyata blog tu lumayan rumit. Please give Advice about My Blog, Ok!!!

Kematian, Apakah pembebasan Jiwa??

Dunia ini semakin kacau rupanya. Banyak hal yang semakin membuat orang bingung. Bahkan pada pribadinya sendiri. Sebenarnya tujuan hidup manusia itu apa?
Itu pertanyaan yang selalu dicari setiap manusia. Tentunya bukan semua manusia. Lantas manusia seperti apakah yang bertanya seperti itu.
Menurut saya manusia yang tidak mengenal dirinya yang sering bertanya demikian. Banyak manusia menikmati hidup dengan hura-hura, namun akhirnya ada yang mati karena bunuh diri. Namun banyak orang menderita yang tetap bertahan menikmati hidup apa adanya. Kenapa hal ini sering kita jumpai?
Hakekat kebahagiaan dan penderitaan itulah yang harus diluruskan. Jawaban setiap orang tentang kebahagiaan dan penderitaan menunjukkan sejauhmana mereka mengenali dirinya sendiri.
Dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa Allah tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Allah). Selain itu Allah menurunkan manusia di bumi adalah untuk menjadi khalifah/pemimpin yang akan mengelola bumi umtuk kessejahteraan manusia sendiri.
Jadi dengan memahami inti dari dua terjemahan Al-Quran tadi sudah jelas bahwa hidup manusia itu untuk beribadah kepada Allah. Hakekat Ibadah bukan hanya ibadah mahdah seperti shalat, puasa, dsb. Namun menurut saya hal-hal kecil seperti bersyukur termasuk aplikasi dari ibadah.
Fenomena bunuh diri bukan hal asing lagi. Benarkah penderitaan dapat dibebaskan dengan kematian, lebih mudahnya dengan cara bunuh diri? Atau bunuh diri merupakan salah satu cara ektrim untuk eksis untuk menunjukkan ke "aku"an manusia. Karena memang berdeda cara bunuh diri saat ini dengan zaman dahulu. Dimana sekarang bunuh diri dilakukan di tempat-tempat umum seperti Pasar, Mall, pusat hiburan, hotel, dan masih banyak lagi. Dengan memahami tujuan hidup manusia, tentu akan memahami apa saja yang akan Tuhan berikan untuk mencapainya.
Tuhan menjanjikan surga dan neraka sebagai balasan untuk perbuatan manusia. Tuhan menciptakan siang dan malam yang masing-masing dilalui manusia untuk kegiatan yang berbeda. Tuhan juga menciptakan Kebahagiaan dan Penderitaan yang merupakan seni dalam hidup ini. Dibilang seni karena pengejawantahan bahagia dan derita tergantung persepsi masing-masing orang. Persepsi sendiri dipengaruhi oleh keyakinan, pengalaman dan prinsip masing-masing orang. Bagi saya suatu penderitaan bukan hal yang pantas disesalkan, bahkan dihilangkan. Namun penderitaan merupakan ujian Tuhan untuk mengatahui sejauhmana kesungguhan manusia beribadah kepada-Nya. Selain itu dengan penderitaan, manusia diharapakan menemukan pembelajaran tentang problem solving dari masalah. Sedangkan kebahagiaan adalah lawan dari penderitaan, yang menurut saya akan hadir saat kita bisa mengatasi penderitaan. Jadi jika Anda merasa hidup Anda sedang menderita, diputus pacar mungkin, banyak hutang atau bangkrut terkena efek krisis global, maka jangan sekali-kali berpikir untuk membebaskan diri melalui cara tolol yaitu bunuh diri.
Namun instropeksi diri dan sharing ke sahabat bisa menjadi jalan keluar. Mungkin Anda terlena dengan kebahagiaan dunia sehingga Tuhan menegur Anda melalui sedikit penderitaan. Kembalikan semua permasalahan kepada Allah, karena Allah adalah sebaik-baik pelindung dan pemberi pertolongan (Hasbunallah wani`ma wakil ni`ma maula wani`ma nahir)